Selasa, 31 Mei 2011

Aneka Warna Masyarakat

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar belakang
Antropologi sebagai salah satu bidang keilmuan memiliki perbedaan dengan disiplin ilmu lainnya baik dari segi ruang lingkup, pendekatan, pokok perhatian. Antropologi mencoba untuk mencari jawaban siapakah dan apakah manusia itu meski tidak dapat didefinisikan secara terbatas.
Bila dikaitkan dengan keragaman etnis di Indonesia, antropologi sangat bermanfaat untuk memahami kemajemukan (perbedaan) yang terdapat pada masyarakat Indonesia sehingga menimbulkan rasa persatuan dan kesatuan serta cinta tanah air. Antropologi, secara etimologis berasal dari kata Antropos, yang berarti manusia dan logos yang berarti ilmu. Jadi antropologi adalah ilmu tentang manusia seperti yang dinyatakan oleh R. Linton, seorang ahli antropologi dari Amerika Serikat
Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kebenaran dari pernyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, serta berbagai macam aliran kepercayaan.
Keragaman ini, diakui atau tidak, akan dapat menimbulkan berbagai persoalan seperti yang sekarang dihadapi bangsa ini.
B.  Rumusan Masalah
      1.   Apakah definisi  dari masyarakat ?
      2.   Apakah  faktor-faktor yang menyebabkan adanya aneka warna masyarakat ?
C.  Tujuan
      1.   Untuk mengetahui definisi  dari masyarakat.
      2.   Untuk mengetahui unsur-unsur masyarakat.
      3.   Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan adanya aneka warna masyarakat.
D.  Manfaat
      1.   Memberikan pengetahuan atau wawasan kepada mahasiswa tentang keanekaragaman warna masyarakat.
      2.   Sebagai nilai tugas tentang aneka ragam masyarakat pada program studi antropologi.





BAB II
PEMBAHASAN
A.  Definisi Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
B.  Unsur-Unsur Masyarakat

Menurut Soerjono Soekanto alam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini :
1.   Beranggotakan minimal dua orang.
2.   Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan.
3.   Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat.
4.   Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat.
C.  Aneka Warna Masyarakat
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang multicultural yang didalamnya terdapat perbedaan-perbedaan dalam banyak hal, misalnya perbedaan kebudayaan, adat istiadat, agama, ras, suku, bangsa dan sebagainya, yang seringkali menimbulkan konflik. Masyarakat seperti itu sering disebut masyarakat majemuk.
Masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat dimana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial menjadi bagian yang sedemikian rupa sehingga anggota masyarakat tersebut kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat secara keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan atau bahkan kurang, memiliki dasar-dasar untuk saling memahami satu sama lain.
Faktor-faktor yang menyebabkan aneka warna masyarakat Indonesia diantaranya :
1.      Keadaan geografis wilayah Indonesia
Wilayah Indonesia berupa kepulauan, yang terdiri dari 17.000 pulau lebih yang dipisahkan oleh wilayah laut, sehingga terpisah satu sama lain oleh laut. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya isolasi geografis sehingga mereka tumbuh menjadi satu kesatuan suku bangsa yang berbeda satu sama lain, karena keadaan lingkungan mereka yang berbeda.
2.      Letak kepulauan Indonesia di antara dua benua dan dua samudera
Letak yang demikian menjadikan wilayah Indonesia sangat strategis sehingga banyak bangsa-bangsa lain yang datang dan menyebabkan percampuran kebudayaan asli setempat.
3.      Lingkungan hidup suku bangsa yang bervariasi.
Keanekaragaman ras dan suku bangsa Indonesia
Ras adalah penggolongan manusia atas dasar ciri  fisik. Masyarakat Indonesia yang termasuk ras Malayan Mongoloid, yaitu Jawa, Minang, Manado, Sunda, dan lain-lain. Meskipun mereka berasal dari satu ras tetapi mereka mengembangkan kebudayaan dan bahasa yang berbeda-beda.
Keanekaragaman warna  masyarakat Indonesia terlihat dari kebudayaan yang ada, kemudian berlanjut ke keanekaragaman lainnya, seperti stratifikasi, struktur sosial, orientasi nilai sosial budaya .
Ideologi masyarakat yang menekankan keanekaragaman kebudayaan atau ideologi multikulturalisme.
Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa adalah segolongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan.
Struktur masyarakat Indonesia memiliki dua ciri yang unik dan khas, yaitu sebagai berikut :
1.      Secara horizontal masyarakat Indonesia memiliki perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, serta kedaerahan.
2.      Secara vertikal masyarakat memiliki perbedaan-perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.
Aneka warna masyarakat dan kebudayaan tersebut tercermin di dalam berbagai aspek kebudayaan, misalnya di dalam bidang kebahasaan, di dalam bidang organisasi sosial, di dalam sistem mata pencaharian hidup dan di dalam bidang politik.
Di dalam bidang kebahasaan misalnya, di Irian Jaya sampai kini tercatat kurang lebih 224 bahasa lokal yang diujarkan oleh masing-masing kelompok etnik (Ayamiseba, 1984). Bahasa-bahasa lokal yang berbeda itu oleh ahli-ahli bahasa dikelompokkan ke dalam dua kategori besar. Pertama, adalah bahasa-bahasa lokal yang dikelompokkan ke dalam rumpun bahasa Austronesia dan kategori kedua adalah bahasa -bahasa yang tidak termasuk bahasa Austronesia (non-Austronesia) yang dinamakan bahas-bahasa Papua (Ray, 1927:379). Contoh dari masyarakat yang menggunakan bahasa-bahasa kategori pertama, Austronesia, adalah orang Biak, orang Waropen, orang Wandamen dan orang Raja Ampat. Sebaliknya contoh untuk masyarakat yang menggunakan bahasa-bahasa Papua adalah orang Muyu, orang Dani, orang Kapauku dan orang Ayamaru.
Dilihat dari aspek-aspek sistem mata pencaharian, lingkungan geografik, pola tempat tinggal dan kesatuan sosial, maka menurut Koentjaraningrat (1970: iii, iv), masyarakat penduduk Irian Jaya dapat digolongkan dalam tiga tipe masyarakat.
Tipe masyarakat pertama adalah penduduk lembah-lembah di Pegunungan Tengah yang hidup dalam rumah-rumah besar dalam hubungan-hubungan keluarga luas, dengan jaringan luas dari sistem klen, gabungan klen dan federasi desa yang kompleks. Mata pencaharian hidup yang pokok adalah bercocok tanam ubi dan keladi di ladang-ladang. Teknologi untuk membuat alat-alat hidup mereka masih asal zaman batu, dan hanya dibeberapa tempat mereka berkenalan dengan dunia luar sejak pertengahan tahun 1950-an. Contoh masyarakat tipe ini adalah orang Dani.
Tipe masyarakat kedua adalah penduduk desa-desa di bagian pedalaman di daerah hulu sungai-sungai, biasanya hidup dalam rumah-rumah besar dalam hubungan keluarga-keluarga luas (rata-rata 10-15 individu). Mata pencaharian mereka adalah meramu sagu dan berburu. Berburu dan mencari ikan di sungai merupakan pekerjaan sambilan. Contoh dari masyarakat ini adalah penduduk danau-danau, Irian Jaya bagian Utara.
Tipe masyarakat ketiga adalah penduduk desa-desa di hilir dan muara-muara sungai dan penduduk pantai serta penduduk kepulauan. Mereka ini hidup dalam rumah-rumah kecil dalam hubungan keluarga-keluarga batih kecil (rata-rata 4-5 individu) yang bersifat amat individualistis. Mata pencaharian hidupnya adalah meramu sagu, berburu, berkebun dan mencari ikan di pantai atau di laut. Contoh masyarakat ini adalah penduduk Pantai Utara.




BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.
Faktor-faktor yang menyebabkan aneka warna masyarakat Indonesia diantaranya :
1.      Keadaan geografis wilayah Indonesia
Wilayah Indonesia berupa kepulauan, yang terdiri dari 17.000 pulau lebih yang dipisahkan oleh wilayah laut, sehingga terpisah satu sama lain oleh laut. Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya isolasi geografis sehingga mereka tumbuh menjadi satu kesatuan suku bangsa yang berbeda satu sama lain, karena keadaan lingkungan mereka yang berbeda.
2.      Letak kepulauan Indonesia di antara dua benua dan dua samudera
Letak yang demikian menjadikan wilayah Indonesia sangat strategis sehingga banyak bangsa-bangsa lain yang datang dan menyebabkan percampuran kebudayaan asli setempat.
3.      Lingkungan hidup suku bangsa yang bervariasi.
Struktur masyarakat Indonesia memiliki dua ciri yang unik dan khas, yaitu sebagai berikut :
1.      Secara horizontal masyarakat Indonesia memiliki perbedaan-perbedaan suku bangsa, agama, serta kedaerahan.
2.      Secara vertikal masyarakat memiliki perbedaan-perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.
















DAFTAR PUSTAKA
Ihromi, T.O., 1980. Pokok Pokok Antropologi, Jakarta : PT. Gramedia.
 
Koentjaraningrat.1990. Pengantar Ilmu Antropologi (Cetakan ke delapan). Jakarta:  Rineka Cipta.

Sumber Media :
www.google.co.id



KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sebagaimana mestinya.
Makalah ini merupakan salah satu kompetensi dasar bagi Mahasiswa tentang Pengantar Ilmu Antropologi  . Adapun judul yang saya pilih yakni “Aneka Warna Masyarakat”.
Dalam penulis Makalah ini penulis menemukan kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan terutama kurangnya bahan bacaan sehingga Makalah ini jauh dari kesempurnaan yang diinginkan. Namun semuanya itu merupakan kesan suka duka yang tak mudah terlupakan dan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Maka sehubungan dengan penyusunan Makalah ini apabila ada kekurangan atau kesalahan, hal itu tidaklah terlepas dari batasan ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis, maka benarlah pepatah berbunyi :
tak ada gading yang tak retak
Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.   Drs. Supriadi Hamdat, Ma, sebagai Dosen Pengantar Ilmu Antropologi di Unhas yang memberikan arahan dan pengetahuan tentang Antropologi.
2.   Keluarga yang senantiasa memanjatkan doa kepada Allah SWT demi tercapainya kesuksesan penulis dan tak henti-hentinya memberikan batuan moril dan materil.
Sebagai penulis, saya juga sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun kepada lapisan masyarakat terutama dari para rekan-rekan pembaca. Demi kesempurnaan makalah berikutnya.
Kiranya Allah SWT memberikan imbalan yang setimpal, atas segala bantuan yang telah diberikan sehubungan dengan penyusunan Makalah ini.

Makassar, ………................2008


Penulis












DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................................        
KATA PENGANTAR ...............................................................................         i
DAFTAR ISI ...............................................................................................         iii
BAB    I     PENDAHULUAN ....................................................................         1
A.    Latar Belakang `....................................................................         1
B.     Rumusan Masalah .................................................................         2
C.     Tujuan ...................................................................................         2
D.    Manfaat .................................................................................         2
BAB    II   PEMBAHASAN .......................................................................         3
A.    Definisi Masyarakat  .............................................................         3
B.     Unsur-Unsur Masyarakat  .....................................................         3
C.     Aneka Warna Masyarakat .....................................................         4
BAB    III  PENUTUP .................................................................................         8
                  A.  Kesimpulan ...........................................................................         8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................         10







Tugas Individu


MAKALAH
ANTROPOLOGI
ANEKA WARNA MASYARAKAT

 







DISUSUN OLEH :
MOHAMMAD WAHYUDDIN
E 211 08 252


PROGRAM STUDI PENGANTAR ILMU ANTROPOLOGI
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR


 
 

0 komentar:

Poskan Komentar