Sabtu, 11 Februari 2012

Konsep Efektivitas


II.1  Konsep Efektivitas
       II.1.1    Pengertian Efektivitas
Seringkali dikemukakan bahwa batu uji yang sebenarnya untuk manajemen yang baik adalah kemampuan mengorganisasi dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dalam tugas untuk mencapai dan memelihara suatu tingkat operasi yang efektif yang efektif. Kata kunci pengertian ini ialah kata efektif karena pada akhirnya keberhasilan kepemimpinan dan organisasi diukur dengan konsep efektivitas. Walaupun banyak orang setuju bahwa manajemen memegang peranan utama dalam mencapai efektivitas organisasi. Pengertian efektifitas sebenarnya bersifat abstrak, namun akan menjadi konkrit dan dapat diukur apabila mampu untuk mengidentifikasi segi-segi yang lebih menonjol atau nampak yang berhubungan dengan konsep efektivitas.
Adapun pengertian efektivitas menurut Ndraha (2005:163), efisiensi digunakan untuk mengukur proses, efektivitas guna mengukur keberhasilan mencapai tujuan”. Khusus mengenai efektivitas pemerintahan, Ndraha (2005:163) mengemukakan :
Efektivitas (effectiveness) yang didefinisikan secara abstrak sebagai tingkat pencapain tujuan, diukur dengan rumus hasil dibagi dengan (per) tujuan. Tujuan yang bermula pada visi yang bersifat abstrak itu dapat dideduksi sampai menjadi kongkrit, yaitu sasaran (strategi). Sasaran adalah tujuan yang terukur, konsep hasil relative, bergantung pada pertanyaan, pada mata rantai mana dalam proses dan siklus pemerintahan, hasil didefinisikan. Apakah pada titik output? outcome? feedback? Siapa yang mendefinisikannya : pemerintah, yang diperintah atau bersama-sama?.[1]
Mengutip Ensiklopedia Administrasi, (The Liang Gie, 1967) menyampaikan pemahaman tentang efektifitas sebagai berikut :
Efektivitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek akibat yang dikehendaki, kalau seorang melakukan perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki, maka orang tersebut dikatakan efektif, kalau menimbulkan akibat atau mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendaki.[2]

Adapun Emerson dalam Handayaningrat (1996:16) mengatakan bahwa “Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan”. Jadi apabila tujuan tersebut telah dicapai, baru dapat dikatakan efektif. Masih dalam buku yang sama, Hal ini dipertegas kembali dengan pendapat Hasibuan dalam Handayaningrat (1996:16) bahwa “efektivitas adalah tercapainya suatu sasaran eksplisit dan implisit”. Hal senada juga dikemukakan oleh Miller dalam Handayaningrat (1996:16) “Effectiveness be define as the degree to which a social system achieve its goals. Effectiveness must be distinguished from efficiency. Efficiency is mainly concerned with goal attainments”, yang artinya efektivitas dimaksudkan sebagai tingkat seberapa jauh suatu sistem-sistem sosial mencapai tujuannya.
Selain pencapaian tujuan, Winardi (1992:84) menjelaskan “Efektivitas adalah hasil yang dicapai seorang pekerja dibandingkan dengan hasil produksi lain dalam jangka waktu tertentu”. Apabila peneliti analisa kutipan ini, maka efektivitas adalah hasil yang diperoleh seorang pekerja dan dibandingkan dengan waktu yang dipergunakan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut.[3]
Hal ini berarti bahwa pengertian efektivitas merupakan suatu konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan bahwa efektivitas merupakan tingkat ketercapaian tujuan dari aktivasi-aktivasi yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dalam buku Manahan P. Tampubolon (2008:73-74), ada tiga pandangan mengenai efektivitas :
1.    Pandangan individu 
Pandangan ini menekankan pada kinerja individu-individu yang ada di dalam organisasi.
2.    Pandangan kelompok
Pandangan efektivitas kelompok, penekanannya pada kinerja yang dapat diberikan kelompok pekerja. Dengan demikian, yang dimaksud dengan efektivitas kelompok adalah jumlah kontribusi dari semua anggotanya.
3.    Pandangan organisasi
Pandangan dari segi efektivitas organisasi adalah terdiri dari efektivitas individu dan kelompok.
Hubungan dari ketiga pandangan ini mengenai efektivitas diperlihatkan pada gambar dibawah ini :

Gambar 1
Tiga pandangan mengenai efektifitas organisasi







Gambar diatas menerangkan bahwa tanda anak panah yang menghubungkan tiap-tiap tingkatan tidak berarti menunjukkan bahwa efektivitas individu dapat menyebabkan efektivitas kelompok. Begitu pula kelompok tidak berarti menyebabkan efektivitas organisasi. Anak panah itu hanya menunjukkan urutan belaka, sebab tiap-tiap efektivitas dapat dipandang sebagai variabel-variabel yang tergantung dari variabel lain, yaitu sebab-sebab dari efektivitas. Sedangkan efektivitas organisasi adalah hasil dari sejumlah variabel termasuk teknologi, kesempatan baik, kecakapan perorangan, motivasi, dan hambatan lingkungan.[4]


       II.1.2    Pendekatan Efektivitas
Menurut Martani dan Lubis (1987:55), ada 3 (tiga) pendekatan dalam mengukur efektivitas organisasi, yaitu:
1.    Pendekatan Sumber (resource approach) yakni mengukur efektivitas dari input. Pendekatan mengutamakan adanya keberhasilan organisasi untuk memperoleh sumber daya, baik fisik maupun nonfisik yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
2.    Pendekatan proses (process approach) adalah untuk melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau mekanisme organisasi.
3.    Pendekatan sasaran (goals approach) dimana pusat perhatian pada output, mengukur keberhasilan organisasi untuk mencapai hasil (output) yang sesuai dengan rencana.[5]
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan proses, dimana untuk melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan program dari semua kegiatan proses internal atau mekanisme organisasi dalam hal ini efektivitas implementasi program beras miskin (raskin) Kecamatan Turikale Kabupaten Maros.
Berdasarkan pendekatan-pendekatan dalam efektivitas organisasi yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi sebagaimana yang dikemukakan Steers (1984:209) :
1.   Ciri organisasi
Struktur dan teknologi organisasi dapat mempengaruhi segi-segi tertentu dari efektifitas, dengan berbagai cara. Mengenai struktur, ditemukan bahwa meningkatnya produktivitas dan efisiensi sering merupakan hasil dari meningkatkan spesialisasi fungsi, ukuran organisasi, sentralisasi pengambilan keputusan, dan formalisasi. 
2.   Ciri lingkungan
Lingkungan luar dan dalam juga telah dinyatakan berpengaruh atas efektifitas. Bila lingkungan luar meliputi hukum, ekonomi, dan pasar dimana organisasi berusaha mendapatkan sumberdaya dan mendistribusikan keluarannya, lingkungan dalam meliputi kebudayaan dan sosial yang sangat menentukan perilaku pekerja.
3.   Ciri pekerja
     Faktor pengaruh penting yang ketiga atas efektivitas adalah para pekerja itu sendiri. Pada kenyataannya , para anggota organisasi mungkin merupakan faktor yang paling penting atas efektivitas karena perilaku merekalah yang dalam jangka panjang akan memperlancar atau merintangi tercapainya tujuan organisasi.
4.   Kebijakan dan praktek manajemen
     Mekanisme  ini meliputi penetapan tujuan strategi, pencarian dan pemanfaatan sumber daya secara efisien, menciptakan lingkungan prestasi, proses komunikasi dan pengambilan keputusan, dan adaptasi dan inovasi organisasi. [6]

Suatu organisasi tidak memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi, akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuannya tetapi apabila suatu perusahaan memperhatikan faktor-faktor tersebut maka tujuan yang ingin dicapai dapat lebih mudah tercapai hal itu dikarenakan efektivitas akan selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.
Sedangkan untuk mengukur tingkat efektivitas yang tinggi perlu memperhatikan kriteri-kriteria efektivitas sebagaimana yang dikemukan oleh Sondang P Siagian (2000:32) mengungkapkan beberapa hal yang menjadi kriteria dalam pengukuran efektivitas : Efektivitas dapat diukur dari berbagai hal, yaitu: kejelasan tujuan yang hendak dicapai, kejelasan strategi pencapaian tujuan, proses analisa dan perumusan kebijakan yang mantap, perencanaan yang matang, penyusunan program yang tepat, tersedianya sarana dan prasarana kerja, pelaksanaan yang efektif dan efisien, sistem pengawasan dan pengendalian yang mendidik.



[2] Ibid.
[3] Sumber : Ikhsan, Aynul. 2011. Efektifitas Kebijakan Keterbukaan Informasi Publik, dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Wilayah Sulawesi Selatan., loc.cit., hal 9 
[4] Tampubolon. P, Manahan. 2008. Perilaku Keorganisasian (Organization Behavior). Jakarta : PT. Bumi Aksara.
[5] Ikhsan, Aynul.op. cit., hal 11
[6] Steers, Richard. 1984. Efektivitas Organisasi. Jakarta : LPPM & Erlangga., hal 209-212

0 komentar:

Poskan Komentar