Sabtu, 11 Februari 2012

Konsep Kemiskinan


II.3. Konsep Keluarga Miskin dan Kemiskinan
       II.3.1  Keluarga Miskin
Kemiskinan sering dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Kemiskinan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan seperti pangan,perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kemiskinan adalahsuatu kondisi yang dialami seseorang atau kelompok orang yang tidak mampumenyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (BAPPENAS dalam BPS, 2002).
Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini, dalam hubungannya dengan perkembangan individu sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadian dalam masyarakat.[1]
Fungsi ekonomi dalam keluarga artinya bagi kelangsungan hidupnya, keluarga harus mengusahakan penghidupannya. Di dalam masyarakat yang sederhana pembagian kerja dalam kerjasama ekonomi dilakukan antara anggota-anggota keluarga.[2]
Jadi, yang dimaksud keluarga miskin suatu bagian dari masyarakat terkecil yang mempunyai hubungan secara biologis yang hidup dan tinggal dalam rumah yang standar kehidupan ekonominya rendah atau tingkat pendapatannya relatif kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar pokok seperti, sandang, pangan maupun papan.

II.3.2  Kemiskinan
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk masalah yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang. Masalah kemiskinan ini dikatakan sebagai suatu problema karena masalah kemiskinan menuntut adanya upaya pemecahan masalah secara berencana, terintegrasi dan menyeluruh dalam waktu yang singkat.
Menurut Prof. DR. Emil Salim dalam Arifin Noor (2007:288) yang dimaksud dengan kemiskinan adalah suatu keadaan yang dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.[3]
Menurut Prof. Sayogya Dalam Soelaeman Munandar (2006:228), garis kemiskinan dinyatakan dalam Rp./tahun, ekuivalen dengan nilai tukat beras (kg/orang/bulan, yaitu untuk desa 320kg/orang/tahun dan untuk kota 480 kg/orang/tahun).
Atas dasar ukuran ini maka mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.      Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan, dan sebagainya.
b.      Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha.
c.      Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan.
d.      Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas (self employed), berusaha apa saja.
e.      Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai keterampilan.
Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi seseorang/keluarga dikatakan miskin apabila melihat empatbelas indikator yaitu :
1.   Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang
2.   Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu/ kayu murahan
3.   Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa plester
4.   Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain
5.   Sumber Penerangan Rumah Tangga tidak menggunakan listrik.
6.   Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindungi/sungai/air hujan.
7.   Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah
8.   Hanya mengkomsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu
9.   Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun
10.   Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari
11.   Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di Puskesmas/ poliklinik
12.   Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan  0.5 Ha, buruh tani, nelayan, buruh perkebunan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp.600.000 (enam ratus ribu rupiah) per bulan
13.   Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah/tidak tamat SD
14.   Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan nilai                Rp. 500.000.- (lima ratus ribu rupiah), seperti: Sepeda motor (kredit/ non kredit), emas, ternak, kapal motor atau barang modal lainnya.[4]
Berdasarkan uraian diatas bahwa keberhasilan program dapat dilihat dari bagaimana penyelenggara pemerintahan mengefektifkan sumber-sumber data dan sumber daya yang ada sehingga pelaksanaan program dapat dirasakan masyarakat sebagai penerima manfaat.


[1] Noor, Arifin.  2007. Ilmu Sosial Dasar. Bandung : CV. Pustaka Setia. Hal 80
[2] Hartomo,H dan Aziz Arnicun. 2004. Ilmu Dasar Sosial cet.6.  Jakarta ; Bumi Aksara. Hal. 86
[3] Noor. Arifin., loc.cit.,hal. 288
[4] sumber : di Unduh pada : suyatno.blog.undip.ac.id/files/2009/11/13-indikator-kemiskinan.pdf pada Sabtu, 07 Januari 2012, pukul 09.27 Wita

Kemiskinan sering dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan baranguntuk menjamin kelangsungan hidup. Kemiskinan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan seperti pangan,perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kemiskinan adalahsuatu kondisi yang dialami seseorang atau kelompok orang yang tidak mampumenyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi (BAPPENAS dalam BPS, 2002).
Menurut Suparlan (1984) kemiskinan merupakan sebagai suatu standartingkat hidup yang rendah yaitu adanya tingkat kekurangan materi pada sejumlahatau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlakudalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secaralangsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan kehidupanmoral, dan rasa harga diri dari mereka yang  terolong sebagai orang miskin.
Menurut Saldanha (1998) persoalan kemiskinan mengandung enam masalah pokok, yaitu :
1.    Masalah kemiskinan adalah kerentanan. Pembangunan infrastruktur ekonomidan pertanian dapat saja meningkatkan pendapatan petani dalam jumlah besar yang memadai, akan tetapi kekeringan musim dua tahun berturut- turut akandapat menurunkan tingkat hidupnya sampai titik yang terendah.
2.    Kemiskinan berarti tertutupnya akses kepada berbagai peluang kerja karenahubungan produksi di dalam masyarakat tidak memberi peluang bagi merekauntuk berpartisipasi dalam proses produksi, atau mereka terperangkap dalamhubungan produksi yang eksploitatif yang menuntut kerja keras dalam jamkerja panjang dengan imbalan rendah. Hal ini disebabkan oleh posisi tawarmenawar  mereka dalam struktur hubungan produksi amat lemah. Kemiskinandengan demikian juga berarti hubungan dependensi kepada pemilik tanah,pimpinan proyek, elit desa dan sebagainya.
3.    Kemiskinan adalah masalah ketidakpercayaan, perasaan impotensi emosionaldan sosial menghadapi elit desa dan para birokrat yang menentukan keputusanmenyangkut dirinya tanpa memberi ksempatan untuk mengaktualisasikan diri,ketidakberdayaan menghadapi penyakit dan kematian, kekumuhan dankekotoran.
4.    Kemiskinan juga berarti menghabiskan semua atau sebagian terbesarpenghasilannya untuk konsumsi, gizi mereka amat rendah yangmengakibatkan produktivitas mereka rendah.
5.    Kemiskinan juga ditandai oleh tingginya rasio ketergantungan, karenabesarnya keluarga dan beberapa diantaranya masih balita. Hal ini akanberpengaruh peda rendahnya konsumsi yang akan mengganggu tingkatkecerdasan mereka sehingga di dalam kompetisi merebut peluang dan sumber dalam masyarakat, anak-anak kaum miskin akan berada pada pihak yanglemah.
6.    Kemiskinan juga terefleksikan dalam budaya kemiskinan yang diwariskan darisatu generasi ke generasi lainnya.
Menurut Sumodiningrat (1999) klasifikasi kemiskinan ada lima kelas,yaitu  :
1.    Kemiskinan Absolut
Kemiskinan absolut selain dilihat dari pemenuhan kebutuhan dasarminimum yang memungkinkan seseorang dapat hidup layak, juga ditentukan olehtingkat pendapatan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, tingkatpendapatan minimum merupakan pembatas antara keadaan yang disebut miskinatau sering disebut dengan istilah garis kemiskinan. Seseorang termasuk golonganmiskin absolut apabila hasil pendapatannya berada dibawah garis kemiskinan,tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, seperti pangan,sandang, kesehatan, papan dan pendidikan.
Kemiskinan absolut merupakan kemiskinan yang tidak mengacu atau tidak didasarkan pada garis kemiskinan. Kemiskinan absolut adalah derajat darikemiskinan dibawah, dimana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahanhidup tidak dapat terpenuhi (Tambunan, 2006).
2.    Kemiskinan Relatif 
Sekelompok orang dalam masyarakat dikatakan mengalami kemiskinanrelatif apabila pendapatannya lebih rendah dibandingkan kelompok lain tanpamemperhatikan apakah mereka masuk dalam kategori  miskin absolut atau tidak. Penekanan dalam kemiskinan relatif adalah adanya ketimpangan pendapatan dalam masyarakat antara yang kaya dan yang miskin atau dikenal dengan istilah ketimpangan distribusi pendapatan.
Kemiskinan relatif untuk menunjukkanketimpangan pendapatan berguna untuk mengukur ketimpangan pada suatuwilayah. Kemiskinan relatif juga dapat digunakan untuk mengukur ketimpanganantar wilayah yang dilakukan pada suatu wilayah tertentu. Pengukuran relatif diukur berdasarkan tingkat pendapatan, ketimpangan sumberdaya alam sertasumberdaya manusia berupa kualitas pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
3.    Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural mengacu pada sikap seseorang atau masyarakatyang disebabkan oleh faktor budaya yang tidak mau berusaha untuk memperbaikitingkat kehidupan meskipun ada usaha dari pihak luar untuk membantunya. Alfian (1980) mendefinisikan kemiskinan struktural sebagai kemiskinan yangdiderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersediabagi mereka. Kemiskinan struktural meliputi kekurangan fasilitas pemukimansehat, kekurangan pendidikan, kekurangan komunikasi dengan dunia sekitarnya.Kemiskinan struktural juga dapat diukur dari kurangnya perlindungan dari hukumdan pemerintah sebagai birokrasi atau peraturan resmi yang mencegah seseorangmemanfaatkan kesempatan yang ada.
4.    Kemiskinan Kronisa. 
Kemiskinan kronis disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kondisi sosialbudaya yang mendorong sikap dan kebiasaan hidup masyarakat yang tidak produktif.b. Keterbatasan sumberdaya dan keterisolasian (daerah-daerah yang kritisakan sumberdaya alam dan daerah terpencil).c. Rendahnya derajat pendidikan dan perawatan kesehatan, terbatasnyalapangan kerja dan ketidakberdayaan masyarakat dalam mengikuti ekonomipasar.5. Kemiskinan SementaraKemiskinan sementara terjadi akibat adanya: 1) perubahan siklus ekonomidari kondisi normal menjadi krisis ekonomi, 2) perubahan yang bersifat musiman,dan 3) bencana alam atau dampak dari suatu yang menyebabkan menurunnyatingkat kesejahteraan suatu masyarakat.
2.1.2. Ukuran Kemiskinan
Menurut Sajogyo (1977) cara mengukur kemiskinan dengan pendekatan kemiskinan absolut adalah dengan memperhitungkan standar kebutuhan pokok berdasarkan atas kebutuhan beras dan gizi (kalori dan protein) denganmengungkapkan masalah garis kemiskinan dan tingkat pendapatan petani.


0 komentar:

Poskan Komentar